The Story of Eka Mayasari, A Struggle of an Independent Mualaf That Been Murdered

Eka Mayasari, a mualaf from Riau, with a diploma degree majoring English language from UGM class 2005th, who traded street food, had become a victim of a murder and rape abusive on her own place located in Jalan Janti 62 Karang Jambe Banguntapan Bantul at Saturday noon, May 2nd, 2015.

When her convert being recognized a few years ago, she’s been abandoned and exiled by her own parents and thereafter she’s been accepted by Pedak society, since that moment on she lived independently and exert herself to live.

Ever since she become a moslem, she had known as a heroine for An Nur Mosque.  She devote herself to always be beneficial to her surroundings, she also became a teacher at Taman Pendidikan Al Quran in Masjid An Nur, she often cooks, preparing food for the member of Hamka Darwis every occation.  She took her syahadat, given her last pray, and being burried properly by the family of Hamka Darwis.

Years ago she once had a virus on her backbones that caused her fully paralyzed for one year.

Alhamdulillah, a miracle from Allah Subhanahu Wa Ta’akla, even thought she loose two segments of her spine, she recovered and able to walk (which according to the doctor, it’s medically impossible to happen)

She choose a dignified and humble live than a wrong path which probably easier to lived. Become a street food trader and save every rupiahs, until finally, last year she bought an area near the Masjid from a moslem brother, Ibnu Sabar. Her dream was to build a house upon that area.  That dream has not been achieved..

إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ

All those stories ended by a tragic incident, Mayasari found dead last night, brutally killed by an unknown person.

Before the incident, Eka briefly called Fandi, her younger brother to pick her up. But  Fandi fall asleep and came at 5.30 noon, just to found her sister had gone.

Until her very end, Eka Mayasari still consistent as a moslem..

After the autopsy, her body was carried to the house of Syuro Council, Hamka Darwis Faisal at Pedak, Rt 14 Rw 6. Karang Bendo, Banguntapan, Bantul at 1.00 o’clock. And then burried in Karang bendo Pedak Cemetery, Ahad at 2.00 PM.

From ‘Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah Shallallahu Alaihi  wa Sallam said:

مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللهِ أَوْشَكَ اللهُ لَهُ بِالْغِنَى: إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ أَوْ غِنًى عَاجِلٍ.

“Whosoever be stricken by a misery than he convey to human, than his pauperism shall not be closed. And those convey to Allah, than Allah shall gave him one among two adequacy: ‘a fast death’ or ‘a fast adequacy’.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam also said: “The world end are lighter in the side of Allah than a murdered moslem.”

From Buraidah Radhiyallahu ‘anhu, he said, Rasulullah Shallallahu Alaihi  wa Sallam said: “The sin of murdered a moslem are greater than the world end.”

A parable of a murderer were: “…those who killed a human, not because (he killed) someone else, or not because bring a damage upon the earth, than it as if he just killed the whole human race. And those shall preserve a human life, than it as if he has preserve all of the human…” (QS. Al-Maidah: 32).

How could it possible the punishment for the act of killing that has been forbid by the religion, only worth a 5 to 9 years in jail, while the victim had died. Evenmore, that fact were the real rights violation, because of the biased between the commited crime and its punishment.

In Islam, a murdered should bear a qishash as a punishment, because if someone died in the cause of murder, it is obviously an act by intention, planned, based on a motive and using a prepared killing tools.

The worldly law to a murderer in Islam were severe, namely being killed as the qishash upon him.

“O religious people, obliged to thou qishash relate to the people that been killed; a free man with a free man, a slave with a slave, a woman with a woman. Than whosoever have a pardon from its brother, let it be (the forgiven) with a decent way, and let (the forgiven) paid (diyat) to the forgiver with a decent way (also). That is an alleviation from Allah and its mercy. Whosoever exceed the boundaries afterwards, than a poignant torment for thee.” (QS. al-Baqarah: 178).

The ukhrawi punishment were being sent to hell by Allah Subhanahu wa Ta’ala in one time, according to His word: “And whosoever killed a moslem deliberately than his pay were Jahannam, eternally and Allah shall wrath upon him, and condemn him and prepared a great torment for him.” (QS. an-Nisa’: 93)

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un..

Advertisements

Membangun Karir, mulai dari mana?

Ada beragam pemahaman seseorang mengenai karir.  Ada yang menyatakan karir adalah perkembangan dalam pekerjaan seseorang, atau suatu jenjang dalam bidang kerja yang sedang digeluti. Itu kata wikipedia.  Memang benar karir adalah posisi atau jenjang tertentu atau bisa dibilang jabatan dalam kerja seseorang.  Namun, nyatanya banyak orang yang merasa “terjerumus” atau salah memilih kerja. Sehingga pada akhirnya terjebak dalam bidang kerja yang tidak disukai.

Lalu bagaimana kita bisa membangun karir sesuai dengan yang kita inginkan?

Mulailah dari mengetahui apa potensi dan kompetensi diri kita.  Perlu diingat baik-baik, bahwa ingin menjadi sesuatu belum tentu kita baik dalam melakukannya.  Contoh sederhana, mungkin ada sebagian dari kita yang dulu bercita-cita ingin jadi ilmuwan. Kenyatannya, saat usai kuliah dan mulai terjun dalam bidang kelimuan tersebut, hanya jemu dan ujung-ujungnya “ga tahan” kerja dibidang itu.  Lebih parah lagi, pengalaman teman saya, malah ‘drop out’ dan kerja dibidang yang 180 derajat beda dari yang sebelumnya dijalani.

Jangan salah, banyak yang tetap sukses membangun karir dengan metode ‘banting setir’ seperti itu.  Kita dapat menemui banyak profesional yang bekerja dibidang yang berlainan dengan latar belakang pendidikan sarjananya.  Tapi, alangkah efektif dan hemat energi, juga biaya, jika dari awal kita sudah tahu apa yang kita inginkan.

Terus bagaimana tahu bidang apa yang kita suka dan memang sesuai dengan potensi kita?

Cara menemukannya dimulai dari rasa suka.  Suka yang bukan sekedar suka. Tapi suka yang saking sukanya mau kerja keras dan mau mengorbankan waktu dan energi menjalankannya.  Bukan suka tak berdasar atau mau yang ga jelas.  Banyak orang bilang mau kaya, mau lulus kuliah cepat, mau gaji besar, mau ini dan mau itu. Tapi apakah usahanya sebanding dengan “kemauannya”?

Umumnya kita suka dengan sesuatu yang kita baik dalam melakukannya.  Bagaimana bisa baik dalam melakukannya? Tentunya karena ada potensi di hal tersebut.  Mulainya bisa dari suka dulu lalu mengasah potensi, atau memang punya potensi/bakat yang lama-lama jadi suka.

Memang mengenali potensi sendiri atau melakukan talent mapping agak susah dilakukan sendirian.  Tak lain karena kadang kita jadi susah objektif bila berkaitan dengan diri sendiri.

Jadi apa yang perlu dilakukan?

Cara yang paling umum dan mudah untuk mengenali potensi kita adalah dengan psikotes. Melalui psikotes kita bisa melihat sisi kuat dan sisi yang masih lemah dari diri kita.  Ingat! Setiap orang pasti punya potensi.  Jadi jangan fokus pada kelemahan kita.  Melainkan fokuslah pada potensi dan kelebihan yang kita punya.

Sudah ketemu potensinya, lalu bagaimana?

Langkah selanjutnya menemukan bidang kerja yang memang sesuai dengan potensimu.  Oiya perlu diingat ya, tidak semua hasil psikotes ditelan bulat-bulat.  Saat melakukan rekrutmen dulu, saya pernah menemukan individu dengan hasil psikotes biasa saja, namun saat bekerja ternyata dia mampu menonjolkan potensinya sehingga kelemahannya tertutupi.  Jadi lagi-lagi fokus utamanya tetap pada potensi ya.

Naah, menemukan bidang kerja ini yang juga perlu dicermati baik-baik.  Beberapa orang mulai melihat pentingnya berkonsultasi soal memilih pekerjaan dan memulai karir ditempat yang tepat.  Menurut catatan Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo), sampai saat ini tercatat ada 6.000 perusahaan jasa konsultan yang tersebar di 33 provinsi (Sumber: Majalah Swa). Data tersebut menunjukkan bahwa saat ini semakin banyak yang menyadari pentingnya membangun karir secara spesifik dan memiliki spesialisasi di bidang kerja tertentu.

Oke, sekarang alurnya sudah tahu kan?  Saatnya mencoba, temukan bidang kerja yang memang Anda sukai, berkemauan keras untuk mewujudkannya, lalu jalani prosesnya dan bangunlah karir Anda.

Catatan khusus, bidang kerja tak harus kerja sebagai karyawan namun bisa jadi kerja yang Anda ciptakan sendiri.

Mengutip judul buku best-seller karya Rene Suhandono, your job is not you career.

Selamat memulai karir Anda…